Kamis, 20 Mei 2010

Autisme Pada Anak

Ibu Ani adalah seorang wanita karier yang setiap hari sibuk bekerja, namun selalu menyempatkan diri untuk memeriksakan kesehatan anak tunggalnya yang kini berumur 3 tahun, lebih-lebih bila sakit. Dokter selalu berkata, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pertumbuhan anak tersebut terbilang baik dan tampaknya selalu asyik bermain sendiri, hanya bicaranya belum lancar. Hal tersebut merupakan hal yang biasa pada anak dan nantinya akan bisa dengan sendirinya. Akhir-akhir ini si ibu merasa khawatir anaknya menderita autisme seperti yang ia dengar pada Seminar Autisme. Kekhawatiran ini makin bertambah setelah ia membaca surat kabat bahwa imunisasi MMR dapat menyebabkan autisme. Anaknya pernah mendapatkan imunisasi MMR sewaktu berumur 15 bulan. Kekhawatiran yang dialami ibu Ani tersebut, saat ini banyak pula terjadi pada orang tua lainnya. Autisme pada anak adalah kondisi yang menimpa anak pada saat lahir atau pada umur di bawah tiga tahun. Penyakit ini menyebabkan mereka tidak mampu membentuk hubungan sosial atau mengembangkan komunikasi yang normal. Akibatnya, anak menjadi terisolasi dari kontak manusia dan tenggelam dalam dunianya sendiri yang diekspresikan dalam minat dan perilaku yang terpaku dan berulang-ulang. Di Amerika Serikat, antara 60.000-115.000 anak berumur kurang dari 15 tahun menderita autisme, sehingga diperkirakan terdapat 10 sampai 20 kasus per 10.000 penduduk. Rata-rata kasus ditemukan sewaktu anak berumur 6 tahun. Sebagian besar orang tua menganggap ada yang tidak beres pada diri anaknya sewaktu anak tersebut berumur 18 bulan. Jumlah penderita anak laki-laki lebih banyak 3-4 kali jumlah penderita anak perempuan, tetapi anak perempuan autisme cenderung lebih berat. Autisme pada anak bisa terjadi di semua tingkat sosial-ekonomi dan di setiap ras, serta pada semua taraf intelegensi. Kapan kita mencurigai seorang anak menderita Autisme? Anak yang menderita autisme gagal menunjukkan keakraban yang lazim terhadap orang tua maupun orang lain. Sewaktu bayi, ia tidak memiliki senyum sosial. Artinya, bayi tidak pernah tersenyum sewaktu diajak bermain, tidak mempunyai perilaku melekat (yaitu perasaan lebih senang apabila berada dekat ibunya). Anak sering tidak dapat membedakan orang yang paling penting dalam kehidupannya, seperti orang tua, kakak, saudara, dll. Apabila ditinggal pergi oleh orang tuanya tidak menunjukkan rasa cemas, sejak bayi ngocehnya kurang, perkembangan kemampuan berbahasa umumnya mengalami hambatan. Setelah bertambah umur, bahasa yang digunakannya sulit dimengerti oleh orang tua, seringkali melakukan aktifitas yang brulang-ulang, misalnya menggerak-gerakkan anggota tubuhnya tanpa tujuan, bahkan bisa juga membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Penderita autisme akan lebih jelas terlihat saat berkumpul dengan anak sebaya. Saat bermain, si penderita tidak bisa berinteraksi atau bermain bersama, apalagi dengan alat permainan yang sama. Ketidakstabilan perasaan, perubahan emosi yang tiba-tiba seperti ledakkan tertawa atau menangis tanpa sebab yang jelas, adalah juga gejala-gejala autisme. Secara garis besar, terdapat tiga ciri utama yang muncul sebelum umur tiga tahun. Interaksi sosial dan perkembangan sosial yang abnormal Tidak terjadinya perkembangan komunikasi yang normal Minat serta perilakunya terbatas dan berulang-ulang Mengapa anak menderita autisme? Penyebab autisme masih belum diketahui secara pasti. Dahulu, diperkirakan bahwa faktor psikologis yang memegang peranan penting dalam timbulnya autisme. Namun, penelitian dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologis yang sangat kompleks. Faktor biokimia, metabolisme, imunologi, toksikologi, pencernaan, dan nutrisi, adalah faktor-faktor yang berperan dalam timbulnya autisme. Dengan demikian, cara pengobatannya pun saat ini sudah lebih banyak berubah. Apakah ada hubungan antara vaksinasi MMR dengan autisme? Kekhawatiran ini bermula dari suatu penelitian yang dilakukan di Inggris, di mana didapat gejala autisme tidak lama setelah anak tersebut mendapat imunisasi MMR. Pendapat ini dibantah oleh berbagai pihak, termasuk oleh Departemen Kesehatan RI. Bantahan ini dikeluarkan karena terbukti bahwa tidak ada peningkatan angka autisme setelah diperkenalkannya vaksin MMR pada tahun 1988. Penutup Orang tua diharapkan berperan aktif dalam memantau tumbuh-kembang anak sejak usia dini. Apabila menemukan gejala autisme, segeralah konsultasikan dengan dokter untuk mendapat kepastian diagnosis. Biasanya, untuk menentukan diagnosis tersebut memerlukan penanganan yang dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari pakar berbagai disiplin ilmu.

Kasus perlunya anak diberikan terpi wicara

Semenjak masih dalam kandungan Raihan memang sudah memerlukan special treatment. Ketika baru awal-awal kehamilan, istri saya bercanda dengan berujar, Raihan nanti lahirnya di ibu bidan saja ya, bukan di Hermina.

Tampak seperti protes, usia kandungan 3 bulan, istri saya mesti dirawat karena hypermesis. Berat badannya susut hingga 13 kg. Saking kempesnya perut, janin yang baru berusia tiga bulan sudah tampak menononjol. Istri saya sudah pasrah ketika mendapatkan informasi dari dokter kalau detak jantung si Janin cukup lemah.

Namun ternyata Raihan sangat kuat. Setelah dirawat hampir 10 hari, istri saya bisa pulang, tetapi hypermesis tidak pernah berhenti, hanya memang tidak terlalu parah. Dalam satu minggu bisa makan paling 2-3 kali.



Usia 8 bulan, ketuban istri saya sempat bocor dan mesti dirawat lagi, untuk menahannya supaya bayi cukup kuat dulu sebelum lahir. Seminggu lebih dirawat, dan ketika sudah membutuhkan waktu 24 jam untuk bisa keluar dari kandung. Fadhel hanya membutuhkan waktu 3 jam, untuk lahir. Masuk RS jam 11 malam, jam 2 pagi sudah lahir. Dan setelah lahirpun Raihan mesti dirawat di khusus selama seminggu. Biayanya, total semua 3 kali lipat dengan biaya kelahiran Fadhel.

Sebenarnya sejak awal, Fadhel paling dekat dengan saya. Kata pertama yang dia ucapkan bukannya ibu tetapi ayah. Tetapi ketika adiknya lahir, semuanya berubah. Segala hal harus dikerjakan bersama ibunya (sampai sekarang).

Pengalaman dengan gangguan perkembangan Fadhel membuat kami ekstra hati-hati. Sejak hamil kami sudah jaga segala hal yang memicu autisme, seperti makanan laut yang banyak tercemar oleh mercury. Imunisasi yang diberikan kepada Raihanpun selalu terbebas dari Mercury, dan tentu saja harganya bisa 5 kali lipat imunisasi biasa.

Secara kasat mata pada awalnya saya tidak terlalu khawatir dengan perkembangan Raihan. Kontak matanya sangat bagus. Kalau Fadhel ketika menyusu tidak pernah memandang mata ibunya, Raihan terus menerus menatap mata ibunya. Itu sebabnya kita setahun lebih belum bisa bicara, saya anggap hanya keterlambatan biasa.

Usia 18 bulan, kami sempat konsultasikan dengan dokter. Dari hasil pemeriksaan semuanya normal. Kami diminta menunggu hingga usia dua tahun. Kalau belum ngomong juga nanti baru perlu terapi.

Pada usia 18 bulan sebenarnya memang sudah keluar beberapa kata seperti Yayah untk memanggil saya, Atau Bu ketika mencari ibunya. Emu untuk minum. Mau, naik dan beberapa kata sederhana lainnya. Tetapi makin hari, bukannya makin bertambah kata-katanya malahan makin malas ngomong.

Usia dua tahun kami bawa lagi ke dokter. Disarankan untuk pergi ke THT komunitas terlebih dahulu untuk memastikan apakah ada gangguan pendengaran atau tidak.
Di THT komunitas Raihan sempat disangka tuli. Pada waktu itu dilakukan test audio. Raihan duduk di tengah-tengah speaker dan diberi mainan. Lalu diberi suara dengan tingkat decible yang makin kuat. Raihan selalu asyik dengan mainannya. Dia baru bereaksi ketika suara sudah pada level 80 Decible. Luar biasa.

Tetapi ketika di verifikasi dengan test bera, ternyata pendengarannya normal saja. Kesimpulan sementara SUPER CUEK.

Menurut dokter Luh, dokter rehab medik Raihan dan Fadhel, Raihan hanya mengalami keterlambatan. Kemungkinan besar adalah ketika masa kehamilan terjadi hypermesis, banyak nutrisi yang dibutuhkan menjadi kurang asupan. Raihan mesti terapi wicara.

Dibanding Fadhel, Raihan memang jauh lebih super aktif. Tubuhnya selalu bergerak. Tetapi menurut dokter Raihan juga tidak hyperaktif. Dia masih bisa konsentrasi untuk suatu hal yang dia sukai, terutama menggambar. Diluar aktifitas menggambar Raihan bergerak terus seperti cacing. Saya teringat usia 3 bulan, karena kelincahan tanggannya sempat menyobek kornea mata saya. Lengan dan pipi ibunya habis dikruesin oleh jari Raihan yang tidak bisa diam.
Kalau mau tidur, tidak ada satu sudut tempat tidur yang dia lewati. Berguling kesana kemari. Yang sangat melelahkan adalah kalau naik bus umum. Pengalaman perjalanan dari Ancol menuju Sudirman benar-benar menguras energi. Dia selalu jalan ke depan dan ke belakang, padahal bus dalam keadaan jalan.

Sekarang Raihan sudah banyak kemajuan. Imitasi suara sudah dia kuasi. Kata-kata sudah dua suku kata. Hanya memang untuk anak usia 2.5 tahun kemampuan bicaranya masih setara dengan anak usia 1 tahun. Harapan saya cuma mudah-mudahan Raihan di sekolah tidak perlu guru pendamping seperti Fadhel.

Sumber: http://laresolo.multiply.com/journal/item/43/Raihan_juga_harus_terapi_wicara

Selasa, 18 Mei 2010

Anak Hiperaktif dan Ada Autis (ringan)

Assalamu'alaikum,

Saya punya anak usia 8 tahun 7 bulan, laki-laki, abk dengan hiperaktif dan autis. Dari kecil (4 tahun) kami sudah melakukan terapi-terapi, Alhamdulillah, ada perubahan-perubahan. Cuma sampai sekarang sifat hiperaktifnya masih ada, dan kadang kita menipis kesabarannya. Saya memasukkan sekolah di SDN inklusi bogor, kelas 2.

Pertanyaan saya;

  1. Apakah anak abk tersebut bisa mencapai taraf prestasi sama dengan anak normal?
  2. Bagaimana cara yang dapat saya lakukan/terapi-terapi di rumah?
  3. Adakah obat-obatan (herbal) tertentu yang dapat membantu?
  4. Sampai kapankah anak abk tersebut mencapai 'kesembuhan' atau normal?

Syukron jazakillah kasiron

wassalamu'alaikum

ummu maulana

Jawaban

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Ummu Firdaus yang dirahmati Allah,

Memasukkan anak "special needs" ke sekolah yang menerapkan sistem inklusi adalah pilihan tepat. Karena anak-anak special needs ini belajar di kelas yang sama dengan anak-anak pada umumnya, tetapi mereka memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Baik berkaitan dengan materi, strategi pembelajaran, media yang digunakan maupun evaluasinya.

Sehingga perkembangan tumbuh kembang maupun kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik anak mengalami kemajuan. Anak dengan special needs juga ada yang mempunyai kemampuan IQ (Intelegence Quetion) yang memadai bahkan ada juga yang di atas rata-rata anak pada umumnya.

Sehingga ummi tidak perlu terlalu mengkhawatirkan prestasinya. Jikapun ternyata IQ ananda masih di bawah rata-rata anak seusianya, sebaiknya ummi membantu ananda dengan memberikan remedial pada pelajaran-pelajaran tertentu. Misalnya : remedial untuk pelajaran berhitung (matematika) untuk membantunya menguasai konsep berhitung, dan lain-lainnya.

Hal yang paling penting yang perlu ummi lakukan adalah memberikan stimulasi atau terapi-terapi yang sesuai dengan kebutuhan ananda. Untuk hal tersebut sebaiknya ummi meminta report dari terapis yang membantunya selama ini. Sehingga ummi akan dapat mengetahui kemajuan yang sudah tercapai maupun kemampuan yang belum tercapai. Setelah itu ummi baru bisa mengevaluasi apa saja yang perlu diberikan untuk ananda.

Adapun mengenai obat-obatan (herbal), saat ini mohon maaf saya belum mendapatkan informasi yang memadai. Namun "akupuntur khusus untuk Autisme" dari informasi yang saya dapatkan sudah teruji cukup berhasil membantu mengurangi hiperaktif dan merangsang pusat bicara. Untuk hal ini, sebaiknya didiskusikan dengan ahlinya.

Di samping itu, untuk membantu mengurangi hiperaktifnya. Sebaiknya ananda mengikuti program "behavior therapy" (terapi perilaku) dalam upaya untuk membantu ananda mematuhi aturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat kita.

Ummu Firdaus yang sabar,

Sebagai manusia kita hanya disuruh untuk berusaha semampu kita. Adapun untuk urusan hasil semuanya adalah hak Allah SWT Yang Maha Rahmaan Rahiim.....

Dan Dia Yang Maha Rahman Tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang ikhlas. Insya Allah dengan terapi-terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan ananda dan do'a ikhlas ummi. Suatu hari nanti ananda akan keluar dari kesulitan yang dialaminya saat ini. Dan saya turut berdo'a semoga ananda mencapai titik kesembuhan seperti yang ummi dan keluarga harapkan. Aamiin.

Wallahu a'lam bisshawab


oleh :Namih Al Faisal, S.Pd

Tips Sukses Mendidik Anak ADHD di Rumah

Homeschooling mungkin akan menjadi pilihan untuk si kecil berkebutuhan khusus. Terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang sulit mengikuti program sekolah umum, atau yang memang membutuhkan belajar secara privat atau disebut juga one-on-one learning. Menurut Janie Bowman dalam bukunya Think Fast! The ADD Experience dan juga praktisi homeschooling, sebenarnya metode ini tidak asing bagi orangtua, karena saat anak berusia balita orangtualah yang menjadi gurunya di rumah. Meskipun demikian, tuntutan pada kemampuan anak semakin besar seiring dengan usia perkembangannya. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

Don't Do "School at Home"
Sebaiknya Anda pikirkan kembali ide membuat metode homeschooling menyerupai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Seperti, mengikuti struktur pelajaran, jam belajar, kurikulum dan lingkungan sekolah. Yang paling penting adalah mengoptimalkan keinginan natural anak untuk belajar. Selain itu, lakukan kegiatan belajar dengan santai serta dukung dan kembangkan minat anak.

Buat Prioritas
Setiap kemampuan yang dimiliki anak akan menjadi modal di masa depannya. Namun, Anda perlu fokus dulu pada kemampuan dasar anak seperti membaca, menulis, matematika dan kecintaan belajar atau bereksplorasi. Jangan hanya terpusat pada keinginan anak. Jika Anda kesulitan mengajari anak kemampuan dasar tersebut, Anda bisa mencari bantuan psikolog. Mungkin Anda memerlukan metode yang berbeda.

Tentukan Waktu yang Tepat
Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki mood pada waktu tertentu yang mempengaruhi konsentrasinya. Jika sedang frustasi, anak tidak bisa belajar secara optimal sehingga terkadang terlihat anak menolak atau membangkang. Pahami situasi, bukan berarti anak sengaja bertindak kasar, namun mereka hanya takut lupa dengan apa yang dipelajari. Kendati demikian, Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan waktu istirahat atau bercanda di sela-sela kegiatan belajar. Buat jadwal kegiatan perminggu atau perbulan. Diskusi dengan anak mengenai waktu belajar yang ideal.

Manfaatkan Hiperfokus Anak
Biasanya anak berkebutuhan khusus seringkali tidak memperhatikan waktu ketika sedang tertarik pada sesuatu (hyperfocus). Jika menurut Anda bermanfaat, biarkan seperti itu namun pastikan anak cukup tidur dan nutrisi. Anda bisa menggunakan kemampuan anak bereksplorasi dengan mengenalkan beragam konsep, misalnya membaca, matematika, kemampuan sosial, sains, geografi dan sebagainya. Misalnya, anak yang didiagnosa sindrom Asperger khususnya laki-laki sangat tertarik dengan komputer. Segera minta bantuan psikolog atau terapis jika kebiasaan ini semakin mengganggu, misalnya anak menjadi lupa waktu dan tidak mau belajar hal lain.

Keunggulan dari homeschooling untuk anak ADHD ialah anak mendapatkan metode pengajaran yang sesuai dengan kepribadiannya. Hal ini dikarenakan orangtualah yang menjadi guru anak, karena meski bagaimanapun orangtualah yang paling tahu kebutuhan si kecil. Perlu diingat meski anak belajar di rumah bukan berarti anak diperlakukan sebagai siswa.


oleh :
Mita Zoelandari

Senin, 17 Mei 2010

Terapi Wicara dan Telat Bicara

Tanya

Ibus yang pintar dan baik, aku mau tanya tentang terapi wicara untuk aak. Apa saja yang dilakukan dalam terapi itu, adakah kurikulumnya ?Anakku (3 th, 1 bulan) bicaranya belum jelas dan dianjurkan untuk mngikuti terapi. Kalau sempat hari ini aku mau bertemu dokter rehabilitasi medik. Tapi aku belum tahu apa yang kira-kira harus aku gali dari dokter itu. Tolong aku ya. Terima kasih. [St]

Jawab

Anakku (19,5 bulan) sudah 1,5 bulan ini mengikuti terapi wicara di Klinik Pela, ditangani oleh 3 orang (dokter anak, psikolog dan dokter rehab). Dari penilaian mereka diputuskan anakku memerlukan terapi yaitu terapi wicara dan terapi okupasi (untuk konsentrasi). Anakku terapi 2 kali dalam seminggu. Menurut pengalamanku, si dokter yang akan banyak bertanya dan menggali informasi dari kita tentang anak kita sambil dia melakukan observasi. Berdasarkan informasi dari kita, dokter bisa lebih cermat melakukan penilaian.

pSumber: Ibu-ibu DI

Jumat, 14 Mei 2010

kebutuhan khusus siswa belajar di sekolah

krishna Murti, Jakarta, Indonesia, pada tanggal 10 Maret 2008. Children with special needs (Heward) is a child with special characteristics that differ from children in general, without always showing on mental disability, emotional or physical. Anak-anak dengan kebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dari anak-anak secara umum, tanpa selalu ditampilkan pada cacat mental, emosional atau fisik. The phenomenon of increasing the number of children with special needs in Indonesia, particularly children with autism spectrum (or autistic spectrum disorder) and children who have other common developmental disorder, which is delayed talking, learning disorders, behavioral disorders (hyperactivity and hipoaktif), down syndrome, cerebral palsy, and so on, causing deep concern of a number of medical professionals, psychologists, parents and students of children. Fenomena peningkatan jumlah anak-anak dengan kebutuhan khusus di Indonesia, terutama anak-anak dengan spektrum autis (atau gangguan spektrum autistik) dan anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan lain yang umum, yang tertunda bicara, gangguan belajar, gangguan perilaku (hiperaktif, dan hipoaktif), down sindrom palsy, otak, dan sebagainya, menyebabkan keprihatinan mendalam dari sejumlah profesional medis, psikolog, orang tua dan siswa anak-anak. The main difficulty handling improvement of children with special needs this is about information and the difficulty of diagnosing the sufferer. Kesulitan utama peningkatan penanganan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini adalah tentang informasi dan sulitnya mendiagnosis penderita. In order to maximize the handling is better done from a very early age, unfortunately, often just wrong diagnoses led to the children experienced a setback. Dalam rangka memaksimalkan penanganan yang lebih baik dilakukan sejak usia dini, sayangnya, diagnosis sering hanya salah menyebabkan anak-anak mengalami kemunduran. Until now children with special needs who received extensive attention in the community are those who belong to the pervasive Developmental Disorder or Autism Spectrum Disorder (ASD). Sampai sekarang anak-anak dengan kebutuhan khusus yang mendapat perhatian luas di masyarakat adalah mereka yang berasal dari Developmental Disorder meresap atau Autism Spectrum Disorder (ASD).

sumber :demotix.com

Helen Keller Menginspirasi Indonesia




Ketika Helen Keller mengunjungi Indonesia pada tahun 1955, ia bertemu dengan kepala negara, Sukarno, untuk membahas kepentingan bersama mereka bagi anak-anak buta. She left behind a Braille printing press, 200 typewriters, and most importantly, a commitment to improve the lives of Indonesia's special needs children. Dia meninggalkan sebuah mesin cetak Braille, 200 mesin ketik, dan yang paling penting, komitmen untuk memperbaiki kehidupan anak-anak kebutuhan khusus Indonesia. Today, thanks to USAID and its partner, Helen Keller International, her vision is being fulfilled and blind children are being integrated into public schools. Hari ini, berkat USAID dan mitra, Helen Keller International, visi nya sedang terpenuhi dan anak-anak buta yang terintegrasi ke dalam sekolah-sekolah umum.

Public education is compulsory in Indonesia until the age of 15, but special needs children are unofficially exempt. Pendidikan publik wajib di Indonesia sampai umur 15, tapi kebutuhan khusus anak-anak tidak resmi dibebaskan. Exclusion from education has negative consequences for those children and creates a marginalized population whose opportunities to be fully productive are severely limited. Pengecualian dari pendidikan memiliki konsekuensi negatif bagi anak-anak dan menciptakan penduduk yang terpinggirkan kesempatan untuk menjadi produktif sepenuhnya sangat terbatas. Only 50,000 of Indonesia's one million estimated special needs children have access to education, primarily through charities. Hanya 50.000 dari satu juta anak di Indonesia diperkirakan kebutuhan khusus memiliki akses ke pendidikan, terutama melalui badan amal. But today, the government is devolving authority over education to local officials, creating an opportunity to design inclusive policies that would bring these children into public schools. Tapi hari ini, pemerintah devolusi kewenangan atas pendidikan kepada pejabat setempat, menciptakan kesempatan untuk merancang kebijakan inklusif yang akan membawa anak-anak ke sekolah-sekolah umum. In response, USAID helped a pilot program in Jakarta lead the way in setting new standards for special needs education. Sebagai tanggapan, USAID membantu program percontohan di Jakarta memimpin upaya menetapkan standar baru untuk pendidikan kebutuhan khusus. The “early intervention” program provides specially trained teachers that prepare preschoolers for regular public schools. Intervensi "awal" Program menyediakan guru khusus yang terlatih yang mempersiapkan anak-anak prasekolah untuk sekolah umum biasa. Indri Aklifia Salsabila, known as Caca, pronounced “cha-cha,” is one of the pioneer children who took part in the program. Indri Aklifia Salsabila, yang dikenal sebagai Caca, diucapkan "cha-cha," adalah salah satu pelopor anak yang ikut dalam program ini. Abandoned by her mother because she was blind, Caca has been raised by her grandmother. Ditinggalkan oleh ibunya karena dia buta, Caca telah dibesarkan oleh neneknya. Determined not to let Caca's disability limit her, she enrolled Caca in the program. Bertekad untuk tidak membiarkan kecacatan membatasi Caca dia, dia terdaftar Caca dalam program ini. Thanks to Caca's hard work, she is ready to start the first grade in her neighborhood school. Terima kasih untuk kerja keras Caca, dia siap untuk memulai kelas pertama di sekolah lingkungan rumahnya.

Tapi pusat lebih dari sekedar sekolah persiapan untuk anak-anak prasekolah. It is also a national resource for teachers, who come there to learn techniques for teaching blind children. Ini juga merupakan sumber daya nasional untuk guru, yang datang ke sana untuk mempelajari teknik-teknik untuk mengajar anak-anak buta. From 2003 to 2005 this program has trained over 300 teachers. Tahun 2003 sd 2005 program ini telah melatih lebih dari 300 guru. The center also teaches Braille and provides Braille textbooks. Pusat ini juga mengajarkan Braille dan menyediakan buku Braille. On a national level, two classifications of training for teaching visually impaired students have been developed, and the government has given grants to schools that are equipped to accommodate special needs children. Pada tingkat nasional, dua klasifikasi pelatihan untuk mengajar siswa tunanetra telah dikembangkan, dan pemerintah telah memberikan hibah untuk sekolah-sekolah yang dilengkapi untuk mengakomodasi kebutuhan khusus anak-anak. Thanks to the ongoing influence of Helen Keller and a grandma committed to Caca's education, the future looks bright for this clever child. Berkat pengaruh yang berkelanjutan dari Helen Keller dan seorang nenek berkomitmen untuk pendidikan Caca itu, masa depan terlihat cerah bagi anak ini pintar. As Helen Keller once said, “Although the world is full of suffering, it is full also of the overcoming of it.” Sebagai Helen Keller pernah berkata, "Meskipun dunia penuh dengan penderitaan, penuh juga dari mengatasi itu."

by : USAID.COM